Perjalanan Paling Jauh Di Dunia 19 Jam Di Dalam Pesawat

Perjalanan Paling Jauh Di Dunia 19 Jam Di Dalam Pesawat

Penerbangan sepanjang 19 jam akan selekasnya dikeluarkan serta jadi rute penerbangan terpanjang sedunia. Bagaimana persiapannya? Merilis CNN, Rabu (28/8/2019), penerbangan nonstop di antara Sydney, Australia ke London atau New York selekasnya dikerjakan. Maskapai Australia, Qantas sudah menginformasikan Rajapoker tiga penerbangan uji cobanya. Dengan 40 orang penumpang, mereka akan terbang langsung dari London atau New York ke Sydney. Ini untuk mengidentifikasi bagaimana badan manusia menyesuaikan waktu terbang sepanjang 19 jam.

Qantas sudah menginformasikan rute penerbangan langsung di antara London, New York, serta tiga kota Australia, yaitu Sydney, Brisbane serta Melbourne pada tahun 2023. Penerbangan eksperimen direncanakan pada bulan Oktober, November serta Desember. Supaya lebih dekat sama sasaran di atas, Qantas bersama dengan beberapa pakar medis akan mengetes kesehatan serta efek yang lain pada penumpang pesawat serta awak.

Bjorn Fehrm, seseorang analis aeronautika serta ekonomi di Leeham News menerangkan mengenai daya tarik penerbangan jarak jauh. Sebab tidak ada transit , karena itu buat pelaku bisnis dapat lanjut beraktivitas pada hari esoknya dengan pilih terbang pada malam hari. Bila penerbangan 19 jam jadi fakta, peluang harga tiketnya semakin lebih mahal buat wisatawan biasa. Sebab semakin lebih murah jika transit lebih dulu. Sebelum eksperimen diawali akhir tahun ini, tiga Boeing 787-9 Dreamliners baru telah berada di jalan produksi. Pesawat itu akan diterbangkan dari pabrik Boeing di Seattle ke London atau New York.

Baca juga : 3 Gunung Di Sulawesi Selatan Yang Memiliki Rintangan Mendaki Menarik

Sesudah penerbangan eksperimen, dua dari New York serta satu diantara London, pesawat baru itu akan langsung masuk service komersial. Penumpang dalam penerbangan eksperimen cuma terbagi dalam karyawan Qantas. Beberapa periset dari Charles Perkins Centre, Kampus Sydney, Monash University serta Alertness Safety and Productivity Cooperative Research Centre akan mempelajari efek dari penerbangan jarak jauh itu. Mereka terhimpun dalam project ilmiah yang di dukung oleh pemerintah Australia.

Penumpang di kabin penting akan menggunakan seperangkat alat pemantau. Beberapa pakar dari Charles Perkins Center akan pelajari bagaimana kesehatan mereka dikuasai oleh rangkaian variabel yang mencakup pencahayaan, minuman dan makanan, pergerakan, jadwal tidur serta hiburan di penerbangan. Ilmuwan Kampus Monash akan konsentrasi pada awak pesawat. Mereka akan merekam tingkat melatonin sebelum, sepanjang serta sesudah penerbangan, dan pelajari data gelombang otak dari piranti electroencephalogram yang dipakai oleh pilot. Info ini selanjutnya akan diberikan ke Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil. Fungsinya menolong memberitahukan ketentuan serta ketentuan berkaitan penerbangan jarak jauh.

Buat beberapa orang mungkin tidak akan tahan dengan penerbangan nonstop 19 jam. Bila penerbangan itu berlangsung, kelihatannya tidak dengan relevan merubah industri penerbangan, sebab telah ada 17 jam penerbangan nonstop di antara Singapura ke New York oleh Singapore Airlines.